Pendidikan

‘Kebanyakan Menghafal Hingga Kebutuhan Bimbel’ Ini Alasan Nadiem Makarim Hapus Ujian Nasional

Nadiem Makarim ungkap kelemahan dari program Ujian Nasional. Nadiem Makarim diketahui sudah menghapus Ujian Nasional untuk tahun 2021. Ini alasannya!

Nadiem Makarim resmi menghapus Ujian Nasional di tahun 2021, mantan bos gojek ungkap alasannya, terlalu banyak menghafal dan buat stres siswa serta guru. Seperti yang diketahui, Ujian Nasional tahun 2021 resmi dihapus. Nadiem Makarim resmi menghapus Ujian Nasional di tahun 2021 pada Rabu, 11 November 2019.

Sementara, Ujian Nasional untuk tahun 2020 masih akan dilangsungkan. Hal tersebut dikarenakan pelajar yang menjalani Ujian Nasional di tahun 2020 sudah mempersiapkan diri. Adiem kemudian menjelaskan bahwa wacana penghapusan UN saat ini telah dikaji, dievaluasi dan dilakukan penilaian.

Pada 2021 nanti, Ujian Nasional akan digantikan dengan program baru. "Pada tahun 2021, UN itu akan diganti menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter," ujar Nadiem saat Rapat Koordinasi bersama Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota se Indonesia di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019). Perubahan program UN ini termasuk dalam empat program pokok kebijakan pendidikan “Merdeka Belajar”.

Program tersebut meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memaparkan alasan menghapus ujian nasional (UN) pada 2021 dalam rapat bersama Komisi X DPR. Mengutip dari<span ></span>Kompas.com, menurut Nadiem, ada tiga alasan mengapa UN perlu diganti dengan sistem ujian lain.

Pertama, UN hanya sekadar membuat siswa menghafal. Belum lagi, materi pada mata pelajaran padat. "Karena cuma ada beberapa jam untuk melakukan itu, sehingga semua materi harus di cover. Ujung ujungnya, ya harus menghafal. Makanya timbul berbagai kebutuhan untuk bimbel dan lain lain untuk mencapai angka tinggi," kata Nadiem di DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Kedua, kata Nadiem, UN menjadi sumber stres bagi siswa, guru, dan orang tua. Sebab, nilai UN menjadi penentu nilai akhir siswa di masa sekolah. "Di UU sudah dijelaskan bahwa UN adalah untuk mengasesmen sistem pendidikan. Tapi karena dilakukan di akhir jenjang dan karena menguji berbagai pelajaran, ini ujung ujungnya jadi angka rapor siswa," ujar Nadiem.

Alasan terakhir, kata Nadiem, UN tidak mampu mengukur kemampuan kognitif siswa. Selain itu, menurut dia, UN tak menyentuh nilai karakter siswa. "Untuk menilai aspek kognitif pun belum mantap. Karena bukan kognitif yang dites. Tapi aspek memori. Memori dan kognitif adalah dua hal yang berbeda. Bahkan tidak menyentuh karakter,<span ></span>values<span ></span>dari anak tersebut, yang saya bilang bahkan sama penting atau lebih penting dari kemampuan kognitif," jelasnya.

UN direncanakan diganti dengan penilaian kompetensi minimum dan survei karakter. Penilaian kompetensi minimum diukur melalui asesmen literasi dan numerasi. Selanjutnya, survei karakter berisikan tentang penerapan nilai nilai Pancasila.

Tags
Show More

Meita Estriani

Rahasia kehidupan adalah jatuh tujuh kali dan bangun delapan kali. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close