Internasional

Lindungi Anaknya, Seekor Induk Gajah di India Mengamuk dan Injak Seorang Warga Desa Hingga Tewas

Seekor gajah betina menginjak seorang warga desa di West Bengal, India, hingga tewas. Gajah tersebut melakukan tindakan tersebut untuk melindungi bayinya. Dalam video yang beredar, induk gajah melahirkan bayinya di dekat danau yang sedang surut.

Induk gajah tersebut kemudian berusaha memindahkan bayi itu ke hutan. Diwartakan Daily Mirror Sabtu (18/5/2019), di tengah usahanya memindahkan bayinya yang sedang sakit, warga desa di Ajnashuli mulai berkerumun dan merekam. Induk gajah yang frustrasi itu mulai menendang tanah sehingga debu pun berhamburan ke udara dengan mengambil sikap melindungi anaknya sambil terus memindahkannya.

Bahkan seperti diberitakan VN Express, gajah itu mulai menghentakkan kakinya ke tanah dan membuat tanda sebagai peringatan agar tidak ada yang mendekat. Namun, induk itu tak kuasa menahan amarah ketika ada sekelompok warga yang mulai melemparinya dengan batu. Gajah itu pun langsung menerjang warga yang berkerumun.

Serangan gajah itu membuat seorang warga berusia 27 tahun bernama Shailen Mahato tewas diinjak. Tak lama kemudian, 10 ekor gajah tiba tiba merangsek. Gajah gajah itu menimbulkan kepanikan luar biasa di kalangan warga desa yang sudah ketakutan di mana video yang beredar menunjukkan hewan itu terus mengejar penduduk.

Polisi hutan pun datang dan langsung mengamankan area tersebut. Mereka tidak memperbolehkan penduduk untuk mendekat ke lokasi kejadian karena masih belum aman. Adapun induk gajah yang marah itu dilaporkan masih berada di sekitar lokasi kejadian setelah anaknya diketahui masih belum cukup kuat untuk bergerak. Otoritas lokal dikutip Daily Mail menuturkan mereka masih mengawasi gajah itu dan tidak akan bisa membawa ke habitat asli mereka sebelum suasana menjadi tenang.

Seorang biksu di Thailand tewas terinjak gajah liar saat sedang melakukan meditasi di hutan. Biksu Prapop Chanphaikhor diketahui sudah menghabiskan 19 malam melakukan meditasi serta merenungkan ajaran yang diterimanya di hutan. Dilaporkan Daily Mirror Selasa (19/2/2019), biksu berusia 25 tahun itu hanya tinggal menghabiskan dua malam lagi sebelum sukses dari pengasingannya. Namun, dia diperingatkan pencari jejak gajah setempat bahwa ada kerumunan banteng mendekati area tempatnya bermeditasi.

Dia menolak untuk memindahkan tenda tempatnya tinggal dengan alasan dia sangat menikmati suasana yang ada di Chachoengsao. Chanphaikhor juga tak mengindahkan peringatan dari warga sekitar ketika ada yang melihatnya meditasi di rute yang biasanya dilalui kawanan ternak. Chanphaikhor ditemukan tewas secara tragis dekat tenda dengan menderita patah iga, lengan, dan kaki pada Rabu pekan lalu (13/2/2019).

Kepala desa Somjit Sathuchard jadi orang pertama yang menemukan jenazah Chanphaikhor. Dia menuturkan si biksu ditemukan terseret 15 meter dari tendanya. Tim penyelamat segera membawanya ke rumah sakit untuk otopsi, dengan dokter menyatakan Chanphaikhor sudah tewas setidaknya selama enam jam.

Kepada polisi, Sathuchard mengungkapkan awalnya Chanphaikhor mendirikan tenda bersama dengan biksu lainnya. Namun, satu memutuskan pindah setelah mendengar saran warga. "Warga desa sudah memperingatkan mereka sangat berbahaya berada di sana. Namun Biksu Prapop menolak karena suka dengan suasananya," terang Sathuchard.

Diyakini 15 ekor gajah liar sedang berjalan pada tengah malam untuk mencari makanan ketika tak sengaja menginjak Chanphaikhor karena menghalangi jalan mereka. Sathuchard melanjutkan, ini bukan kali pertama gajah mengganggu manusia dengan menjelaskan sudah ada warganya yang terluka dalam beberapa tahun terakhir. "Kami menghubungi dinas alam liar untuk mendiskusikan solusi dari masalah ini sebelum mereka terlalu agresif ditangani," pungkas Chanphaikhor.

Kasus serangan binatang buas pun sempat pula terjadi di India. Ram Swaroop Meena pria asal India tewas diterkam macan tutul ketika sedang buang air besar di luar rumahnya. Peristiwa terjadi di desa Kishori, Distrik Rajasthan Alwar, Sabtu (4/5/2019) malam.

Dilaporkan Daily Mail Selasa (7/5/2019), tim penyelamat yang melakukan pencarian menemukan jenazah pria berusia 45 tahun itu keesokan harinya, Minggu (5/5/2019). Pemeriksaan portmortem dilakukan dengan polisi mendaftarkan kasus itu sebagai kematian yang tidak wajar sehingga dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Polisi langsung menyadari Meena dibunuh macan tutul ketika mereka melihat ada jejak cakar di dekat lokasi penemuan jenazah. Polisi hutan kemudian memasang perangkap untuk menangkap hewan itu.

Kabar kematian Meena diketahui setelah seorang bayi berumur sembilan bulan ditemukan tanpa kepala. Diyakini, bayi itu diterkam macan tutul saat tidur di samping ibunya April lalu. Dhaval Rathwa diserang ketika tidur di rumahnya kawasan Zari sekitar pukul 04.00 waktu setempat pada 16 April.

Macan tutul yang diketahui berumur delapan tahun itu menerkam Dhaval dan menyeretnya dari ranjang. Jenazahnya baru ditemukan beberapa hari kemudian. Ranger dari Departemen Kehutanan Negara Bagian Gujarat menangkap kucing besar itu pada dini hari besoknya menggunakan perangkap yang dipasangi umpan.

Pada 26 Maret lalu, Shrutika Thit diterkam ketika sedang memanen jagung bersama neneknya Kusum Kaduskar di desa Sakori, Negara Bagian Maharashtra, pukul 17.00. Juru bicara desa Vinod Modhave mengungkapkan tangisan Shrutika segera disadari oleh sang nenek. Kaduskar kemudian meminta pertolongan warga desa yang bergegas mengejar macan tutul itu.

Mereka melempari macan tutul tersebut menggunakan batu yang membuatnya melepas Shrutika. Bocah lima tahun itu segera dilarikan ke rumah sakit, namun dinyatakan tewas akibat luka di leher. Pejabat setempat mengutarakan terdapat setidaknya 12.000 sampai 14.000 ekor macan tutul di seluruh India.

Tidak dibeberkan secara pasti berapa jumlah manusia yang dibunuh oleh macan tutul. Namun, pejabat lokal menjelaskan setiap tahun terdapat ratusan kematian.

Tags
Show More

Meita Estriani

Rahasia kehidupan adalah jatuh tujuh kali dan bangun delapan kali. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close