Pendidikan

Pangkat Militer Turun hingga Pernah Jadi Tahanan Rumah, Inilah Riwayat Hidup Pilu Anak RA Kartini

Kartini memiliki seorang anak bernama Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, bagaimana jalan kehidupannya tanpa sosok seorang ibu? RA Kartini semasa hidupnya dikenal sebagai seorang wanita yang bersikeras memperjuangkan hak hak kaum wanita. Berkat perjuangannya ini, kini Kartini dijadikan sebagai simbol emansipasi wanita.

Kartini menjadi tokoh inspiratif bagi para perempuan Tanah Air untuk penyataraan. Secara garis besar, kisah hidup Kartini sudah diketahui oleh seuruh masyarakat Indonesia. Kisah kisah kehidupannya sebagai pelopor kebangkitan wanita pribumi sudah tersebar luas seantero Indonesia.

Di zamannya, wanita begitu dilarang untuk mendapatkan hak hak yang setara dengan para pria, misalnya pendidikan. Terlahir dari keluarga priyayi dengan ayah seorang Bupati Jepara, membuat Kartini mendapatkan perlakuan yang lebih daripada wanita wanita pribumi lain. Menurut Kartini, wanita juga berhak untuk mendapatkan pendidikan.

Hingga akhirnya Kartini mendirikan sekolahan untuk mendidik orang orang di sekitar kediamannya. Kebebasan Kartini harus berakhir karena dirinya dipingit. Usianya yang dianggap sudah cukup, membuatnya harus memutuskan untuk menikah, meski sebenarnya terpaksa.

Kartini menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Ario Djojoadhiningrat yang usianya jauh lebih tua darinya. Dari pernikahan ini, lahirlah Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat. Empat hari setelah melahirkan, kondisi Kartini semakin memburuk.

Hingga pada akhirnya, Kartini meninggal dunia di usia 25 tahun pada 17 September 1904. Diduga karena penyakit preeklampsia (keracunan kehamilan). Kartini harus meninggalkan anaknya yang baru berusia empat hari.

Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat adalah anak Kartini yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu kandung. Soesalit seolah menjadi sosok yang terlupakan jika dibanding ibunya yang begitu menginspirasi banyak orang. Saat bayi ditinggal mati ibunya, pada usia 8 tahun, Soesalit juga ditinggal sang ayah untuk selamanya.

Dengan kondisi ini, Soesalit harus diasuh oleh kakak tirinya yang tertua, Abdulkarnen Djojoadiningrat. Abdulkarnen Djojoadiningrat menjadi Bupati Rembang menggantikan ayahnya yang meninggal. Abdulkarnen mengurus segala keperluan Soesalit, dari urusan sekolah hingga pekerjaan.

Semasa kecil, Soesalit mengenyam pendidikan di Europe Lager School (ELS), sekolah elit untuk para priyayi pribumi dan anak anak Eropa. Lulus dari ELS, Soesalit meneruskan jenjang pendidikannya ke Hogare Burger School (HBS) di Semarang. Kemudian berlanjut ke Recht Hoge School (RHS) Jakarta.

Setahun sekolah di RHS, Soesalit memilih keluar dan bekerja sebagai pegawai pamong praja kolonial. Di luar dugaan, setahun berselang, ternyata Abdulkarnen mendaftarkan Soesalit di Politieke Inlichtingen Dienst (PID). PID adalah polisi rahasia Hindia Belanda.

Soesalit bertugas untuk memata matai pergerakan kaum pribumi, bangsanya sendiri. Tak jarang dirinya sering merasa galau dengan tugas beratnya ini. Soesalit kemudian memilih keluar dari PID setelah Jepang masuk ke Indonesia.

Sekeluarnya dari PID, Soesalit bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA). Memasuki Masa Revolusi, nampaknya Soesalit tetap mengabdikan hidupnya pada kemiliteran. Zaman Agresi Militer Belanda II, Soesalit ditugaskan untuk bergerilya di sekitar lereng Gunung Sumbing, Jawa Tengah.

Sejarawan Hendri F Isnaeni menjelaskan, selama perang kemerdekaan, putra Kartini itu menjadi panglima di Divisi III Diponegoro yang membawahi Jawa Tengah bagian Barat. ”Dia memegang kendali divisi dari 1946 1948." "Dia dikenal sebagai jenderal kerakyatan dan mengidolakan Jenderal Chu Teh (Mandarin Zhu De) dari Tentara Pembebasan Rakyat yang menjadi panglima melawan Jepang di China semasa perang China Jepang,” ujar Hendri, dikutip dari Kompas.com.

Meski demikian, ternyata jenjang karier militernya tidak terlalu beruntung. Soesalit bahkan diturunkan pangkatnya menjadi Kolonel dari Jenderal Mayor saat itu. Tahun 1948 saat berkobarnya peristiwa Madiun, Soesalit mulai bernasib apes.

Soesalit menjadi tahanan rumah dan pangkatnya semakin diturunkan. Hal ini lantaran saat itu pasukan komunis tengah memberontak. Ada sebuah dokumen yang menunjukkan nama Soesalit untuk menjadi sasaran pemerintah.

Tak punya tanda bintang lagi, Soesalit akhirnya menjabat di Kementerian Perhubungan. Semasa sisa hidupnya, Soesalit begitu sederhana dan tidak ingin terlalu bersembunyi di balik nama besar ibunya. Soesalit meninggal pada 17 Maret 1962 di RSPAD.

Dia dimakamkan di pemakaman keluarga Djojoadhiningrat di Rembang. Tahun 1979, Soesalit menerima penghargaan Bintang Gerilya. Begitulah nasib Soesalit hingga akhir hayatnya.

Tags
Show More

Meita Estriani

Rahasia kehidupan adalah jatuh tujuh kali dan bangun delapan kali. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close