Internasional

Sehari Hanya Makan Rp 4 Ribu Demi Sembuhkan Sakit Adiknya Kakak Ditemukan Kurus Kering

Berita viral hari ini Kisah kasih sayang seorang kakak berusia 24 tahun yang rela makan Rp4.000,00 sehari demi sembuhkan adiknya yang sakit. Akibatnya, sang kakak pun kini kurus kering. Hubungan Saudara kandung memang sering rumit; kadang menjahili, kadang membuat sedih, kadang membuat senang.

Menjadi adik dan kakak adalah sebuah anugerah tersendiri bagi yang benar benar merasakannya. Dan seringkali salah satu dari saudara kandung ada yang mengalah dan saudara yang lain tak tahu. Pengorbanan itu adalah salah satu bentuk dari kasih sayang seorang saudara.

Seperti seorang gadis bernama Wu Huayuan yang berusia 24 tahun dan adik laki lakinya di Tiongkok ini. Mereka menjadi yatim piatu setelah orang tuanya meninggal ketika mereka masih kecil. Mereka harus berjuang sendiri menghadapi kehidupan yang ganas.

Mereka pun tentu saat itu tidak memiliki penghasilan karena ibu mereka meninggal ketika gadis itu baru berusia empat tahun. Ayah mereka meninggal pada tahun 2014 yang lalu karena sirosis. Dilansir dari HK01 dan World of Buzz pada (1/11/2019), Wu harus memikul beban keluarga setelah ayahnya meninggal.

Dia dan saudara kandungnya harus bertahan hidup dengan hanya 1.290 yuan (Rp2,5 juta) sebulan untuk berdua. Untuk menghemat uang, Ia rela tidak sarapan dan hanya memakan roti untuk makan siang dan makan malam. Bahkan ia mengaku hanya memakan nasi putih dengan saus cabai karena dia membatasi dirinya menghabiskan 2 yuan (Rp4 ribu) sehari untuk makanan.

Dia melakukan pengorbanan ini karena adik laki lakinya menderita penyakit mental. Ia perlu menghemat uang untuk biaya perawatannya. Kerabatnya juga tidak membantu dan miskin.

Meskipun usia Wu sudah 24 tahun, ia terlihat seperti anak kecil karena kebiasaan makannya. Wu hanya memiliki berat 21kg dan tinggi 135cm, ia pun kehilangan rambutnya dan tidak memiliki alis karena tubuhnya yang kurus tidak memiliki nutrisi yang cukup. Wu juga sering jatuh sakit tetapi tidak ingin menghabiskan uang untuk mengobati dirinya sendiri.

Jadi dia hanya akan membeli obat murah karena dia harus mengumpulkan 5.000 yuan (Rp10 juita) untuk merawat penyakit adiknya. Untungnya, setelah satu tahun perawatan, penyakit mental adiknya sudah hampir sembuh. Meskipun harus berkorban untuk adik dan tak memiliki banyak uang, Wu tidak menyerah pada mimpinya.

Dia berhasil mendapatkan pinjaman mahasiswa untuk belajar di sebuah universitas di Guizhou. Dan saat ini berada di tahun ketiga belajar di fakultas ekonomi. Namun, pinjaman mahasiswa itu tetap tidak mencukupi untuk menutupi pengeluarannya.

Dia pun bekerja banting tulang dan mengambil dua pekerjaan untuk mendapatkan lebih banyak uang. Ia bekerja sebagai asisten pembersih dan pengajar di mana dia dibayar 600 yuan (Rp. 1 juta) setiap bulan. Nasib Wu akhirnya mengambil perhatian sosial media ketika kesehatannya mulai memburuk karena dia merasa sulit untuk berjalan sejauh 40 meter.

Dan dia juga mulai dirawat di rumah sakit. Para dokter mengatakan bahwa dia memiliki masalah jantung karena kekurangan gizi yang parah dan akan membutuhkan pembedahan untuk memperbaikinya tetapi akan menelan biaya 200.000 yuan (Rp400 juta). Wu menolak menjalani operasi karena dia tidak memiliki uang tetapi teman teman dan kerabatnya bertekad bahwa dia harus melakukannya untuk menyelamatkan hidupnya.

Mereka memulai upaya crowdfunding/ donasiuntuknya. Dan kasusnya menjadi viral, dengan banyak orang menyumbang uang untuk membantu Wu dengan operasinya. Adiknya pun bersyukur atas bantuan tersebut, mereka bertekad untuk melakukan yang terbaik.

Wu mengatakan bahwa dia akan menemukan pekerjaan sosial dan mendapatkan uang untuk membantu kakak perempuannya dengan biaya pengobatan. Hidup memang tidak selalu mudah, tapi tetaplah berusaha hingga suatu saat usaha tak akan membohongimu.

Tags
Show More

Meita Estriani

Rahasia kehidupan adalah jatuh tujuh kali dan bangun delapan kali. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close