Nasional

Separuh Fakultas di UI Pernah Saya Masuki Ditanya Soal Riwayat Pendidikan Rocky Gerung

Ditanya soal riwayat pendidikan, Rocky Gerung: Separuh fakultas di UI pernah saya masuki. Siapa yang tak kenal sosok Rocky Gerung? Pengamat politik ini sudah sering muncul di layar kaca Indonesia.

Sering muncul di berbagai talkshow, tak sedikit yang penasaran dengan sosok pria berkacamata ini. Usut punya usut, akademisi sekaliguspengamatpolitikRockyGerungmemang hanya lulusan sarjana S1. Kendati demikian,mantan dosenUniversitasIndonesiaini oleh rekan rekannya di kampus kerap dipanggil 'Profesor'.

Selain itu, Rocky juga dikenal sebagai orang yang terus mengkampanyekan 'Akal Sehat' dalam setiap kuliah umum yang dia ampuh. Lantas bagaimana riwayat pendidikanRockyGerung? Dikenal dulunya sebagai mahasiswa yang kerap berpindah pindah fakultas saat kuliah.

Sebelum menyelesaikan di jurusan Filsafat, Rocky disebut pendah menjajal sejumlah fakultas UI. Di antaranya Fakultas Teknik, Psikologi, Ekonomi, Hukum dan Hubungan Internasional. "Pokoknya separuh fakultas di UI saya pernah masuk," kata Rocky saat tampil di channel Youtube, Rijal Djamal beberapa waktu lalu.

Rocky mengaku meninggalkan Fakultas fakultas itu bukan karena lelah belajar melainkan karena sudah memahi ilmunya. "Jadi saya bukan di DO tapi men DO kan fakultas itu," katanya. Lantas apa jawan Rocky saat ditanya soal Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saat kuliah dulu.

"Saya tidak pernah tahu IPK saya berapa. Karena tdak penting. IPK itu kan akumulasi apa yang tertulis dan berapa paper yang kamu buat. Kalau kamu bikin seminar kan gak dihitung. itu soalnya," katanya. Salah satu komentar Rocky Gerungyang jadi sorotan adalah saat dia menyorotikinerja Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Rocky Gerung membandingkan kinerja Sri Mulyani di era pemerintahan SBY dan juga kini di pemerintahan Jokowi.

Dirinya memang terkenal dengan komentar komentar dan pendapatnya yang tajam. Tak jarang komentar Rocky Gerung itu mengundang pro dan kontra. Hal itu terang terangan disampaikanRockyGerungmelalui channel YouTubeRockyGerungOfficial, Jumat (14/2/2020).

Menurut Rocky, kini Sri Mulyani mengalami kecemasan dalam menjalankan tugas di era Jokowi. "Mungkin ini Ibu Sri Mulyani mengalami kecemasan sehingga mengalami sakit mag," kata Rocky. "Stres," sambungnya tertawa.

Lantas, ia pun menyinggung era pemerintahan SBY. Menurut Rocky, Sri Mulyani justru mendapat banyak pujian di era SBY. "Pasti karena stres, karena saya kenal Sri Mulyani orangnya lincah," ucap Rocky.

"Zaman SBY enggak ada stresnya dia, dapat pujian segala macam." Rocky melanjutkan, Sri Mulyani kini sudah mengetahui ada sesuatu yang tidak rasional di pemerintahan Jokowi. "Sekarang dia stres justru karena dia tahu ada yang tidak rasional dalam pemerintah," ucapnya.

"Karena itu kan, Sri Mulyani kan di train untuk menjadi rasional." Pengamat PolitikRockyGerungdalam kanal YouTubeRockyGerungOfficial, Jumat (14/2/2020). (YouTubeRockyGerungOfficial) Lebih lanjut, ia menyebut ketidakrasionalan pemerintahan Jokowi itu justru disebabkan oleh jajaran menteri yang duduk di kabinet.

Rocky pun menyinggung banyaknya politisi yang dipilih untuk menjadi menteri. "Tetapi dia menjadi irasional karena harus bergaul dengan kabinet yang sering kali irasional," kata Rocky. "Karena yang diutus ke kabinet kan orang partai yang kadang kala irasional melihat ekonomi kan."

Tak hanya itu, Rocky juga menyoroti soal kartu kartu yang dijanjikan Jokowi selama kampanye 2019 lalu. Ia menyebut kartu kartu itu justru tak akan membuat perekonomian membaik. "Memang enak menyebut 'Saya punya kartu gratis'," terangnya.

"Iya, tapi itu tidak menggerakan ekonomi karena uang enggak beredar kan." Terkait hal itu, Rocky pun memberikan contoh untuk menjelaskan pernyataannya. Rocky menyatakan kartu kartu yang dijanjikan Jokowi itu sama sekali tak akan berdampak pada perekonomian masyarakat.

"Setiap kali kita mesti keluarin kartu, ya uangnya beredar dari desa langsung ke pusat kan," terang Rocky. "Saya enggak bisa beli singkong dengan kartu tuh, jadi saya enggak bisa bantu keluarga saya untuk punya uang." "Tetangga saya juga enggak bisa kasih uang jajan pada anaknya tuh," sambungnya.

Dibandingkan kartu kartu itu, Rocky menyebut masyarakat lebih membutuhkan uang. "Tapi keadaan itu yang oleh Pak Jokowi dijanjikan, 'Saya kasih kartu kartu'," tegas Rocky. "Iya, tapi itu tidak menggerakkan ekonomi, kasih uang aja."

Pada kesempatan lain, Budayawan Sudjiwo Tedjo menyoroti pencalonan kerabat terdekat Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilkada 2020. Sudjiwo Tedjo bahkan juga menyebut pencalonan kerabat Jokowi yang maju Pilkada itu sebagai bentuk dinasti politik. Hal itu disampaikan Sudjiwo Tedjo melalui channel YouTube Macan Idealis, Jumat (14/2/2020).

"Saya sekarang cuma bisa ngomong, walaupun saya sendiri yang jadi presiden belum tentu bisa melakukan," kata Sudjiwo. Terkait hal itu, Sudjiwo lantas menyebutkan sederet kerabat Jokowi yang maju Pilkada. Yakni mulai dari anak kandung hingga besan Jokowi.

"Sekarang bagaimana orang bisa percaya Pak Jokowi ketika ngomong nepotisme kalau mantunya maju, Bobby," ujar Sudjiwo. "Gibran di Solo, terus kabarnya ada besannya juga di Sumatera dan di Wonogiri." Meski menjadi pro kontra, pencalonan kerabat Jokowi itu menurutnya sah sah saja di mata hukum.

Bahkan, Sudjiwo menyatakan mencalonkan diri di Pilkada adalah hak setiap warga. "Maksudku gini, ada yang namanya bener dan ada namanya pener," jelas Sudjiwo. "Bener itu belum tentu pener. Mereka punya hak politik dong untuk mencalonkan."

Meskipun begitu, Sudjiwo menyebut kerabat Jokowi itu harusnya mencalonkan diri setelah sang presiden lengser dari jabatan. "Iya dong sebagai warga negara, tapi maksudku tunggu dulu setelah babe selesai jadi presiden, gitu loh maksudku," tegas Sudjiwo. "Dan mungkin kalau aku jadi presiden, aku juga seperti Pak Jokowi sekarang."

Terkait langkah kerabat Jokowi maju Pilkada itu, Sudjiwo terang terangan menilai hal itu sebagai dinasti politik. Bahkan, ia menyebut politik dinasti itu juga diperlukan untuk jaminan masa depan setelah lengser dari jabatan. "Karena aku harus aman kan, setelah aku lengser terus gimana kalau enggak ada dinasti?," jelas Sudjiwo.

"Sementara hidup demikian kejam." "Tapi maksudku ada kerugiannya, aku punya kerugian aku udah enggak bisa neken kepala desa, neken petinggi, neken lurah, neken gubernur, neken menteri agar tidak nepotisme," sambungnya.

Tags
Show More

Meita Estriani

Rahasia kehidupan adalah jatuh tujuh kali dan bangun delapan kali. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close