Bisnis

Termasuk Hapus Anak Cucu Perusahaan BUMN 5 Mimpi Besar Rini Soemarno yang ‘Dipreteli’ Erick Thohir

Penggantian kepemimpinan selalu diikuti dengan pergantian kebijakan. Tak terkecuali di tubuh Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dua pejabatMenteriBUMNpilihan Presiden Joko Widodo memiliki kebijakan yang cukup bertolak belakang, dengan tujuan yang berbeda.

Keduanya orang yang dekat dengan PresidenJokowi. Beberapa kali dalam 100 hari kerjanya, Erick Thohor menganulir keputusanRiniSoemarno, termasuk memecat orang orang pilihannya. Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini adalahlima halmerupakan kebijakan eks Menteri Negara BUMN Rini Soemarno dan juga mimpi besarnya yang dibatalkan pelaksanaannya olehErickThohir

Menteri BUMNErickThohiringin membatalkan rencana pembangunan gedung arsip untuk BUMN. Pasalnya, kini sudah memasuki era milenial dan digital, sehingga gedung arsip untuk BUMN dirasa tak diperlukan lagi. Selain itu, Erick juga menginginkan agar gedung BUMN dirombak pada semua lantai untuk mengubah suasana ruang kerja BUMN menjadi lebih kreatif dan lebih menunjang suasana milenial.

Sehingga budget yang tadinya diperuntukkan untuk membeli gedung baru untuk arsip BUMN akan dialihkan untuk merombak suasana ruangan BUMN. Hal ini dikatakanMenteri BUMNErickThohirsaat memberikan presentasi di acaraMilenialFest 2019. Erick Thohir dalam acara ini menjadi pembicara pertama.

Acara ini diselenggarakan di Balai Sarbini, Jakarta pada Minggu, 14 Desember 2019. Menteri Badan Usaha Milik Negara ( BUMN)ErickThohirberencana menghentikan pembentukan super holding BUMN. “Jadi nanti saya rasa urusan super holding kita ubah konsepnya jadi subholding yang fokus pada masing masing kegiatan unit usaha," ujar Erick di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Erick mencontohkan, konsep subholding tersebut seperti lini bisnis yang dijalankan Pelindo I sampai dengan IV. Saat ini, perusahaan yang bergerak di jasa pelabuhan itu diberi tugas mengelola pelabuhan sesuai wilayah kerjanya masing masing. Erick menginginkan pembagian tugasnya bukan dari wilayahnya, melainkan dari jenis usahanya.

“Contoh apakah ke depan Pelindo bisa jadi pelindo 1 sampai IV atau Pelindo kita ubah sesuai fungsinya, misalnya Pelindo peti kemas, pelabuhan, curah cair, tidak berdasarkan sub region nya yang akhirnya terjadi kanibal tidak pasti di antara mereka. Hal hal ini yang mau kita lakukan,” kata Erick. Sebelumnya, mantanMenteriBUMNRiniSoemarnomelempar wacana pembentukan superholding BUMN dan meniadakan Kementerian BUMN. "Ya itu kan wacana yang kita lemparkan kan. Jadi tentunya masih banyak diskusinya ke sana," ujar Rini di Jakarta, Senin (25/7/2016).

Menurut Rini, pembentukan superholding BUMN sangat dibutuhkan. Sebab, ia percaya bahwa dengan superholding BUMN maka perusahaan perusahaan BUMN bisa bergerak lebih lincah. Selama ini, sejumlah BUMN dinilai tidak bisa bergerak leluasa dalam pengembangan bisnisnya karena berada di bawah Kementerian BUMN.

Menteri BUMNErickThohirlangsung tancap gas membenahi perusahaan perusahaan negara, sejak dilantik pada 23 Oktober 2019 lalu. Teranyar, dalam kasus penyelunduran motor gede (moge) Harley Davidosn dan sepeda lipat Brompton, Erick memberhentikan 4 direksi yang terlibat dalam penyelundupan barang mewah ilegal tersebut. Skandal itu melibatkan Direktur UtamaGarudaIndonesiaAri Askhara.

Tiga direksi lainnya yang terlibat, yaitu Direktur Teknik dan Layanan Iwan Joeniarto, Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Mohammad Iqbal, dan Direktur Human Capital Heri Akhyar. Kasus yang menimpa direksi Garuda ini mengingatkan pada pejabat tinggi BUMN lainnya di eraRiniSoemarno. Dirangkum Kompas.com, selain kasus yang terjadi pada Ari Askhara dan sejawatnya di Garuda, tercatat total ada sembilan direksi BUMN yang berurusan dengan hukum.

Keterlibatan empat direksiGarudaIndonesiadalam kasus penyelundupan, menambah daftar panjang petinggi BUMN eraRiniSoemarnoyang tersangkut masalah. Ari Askhara ini merupakan Direktur UtamaGarudaIndonesiayang ditunjuk langsung olehRiniSoemarno. Ia dilantikSeptember 2018. Sebelum menjabatdiGarudaIndonesiaAri Askhara adalah Direktur Keuangan PT Pelindo III Persero pada Mei 2014.

Tujuh bulan kemudian, Ari Askhara masukGarudaIndonesiasebagai direktur keuangan. Pada 2016, Ari Askhara ditunjuk sebagai Direktur Human Capital dan Pengembangan Sistem PT Wijaya Karya Persero Pada era kepemimpinannya Erick Thohor langsung memangkas Jabatan Deputi di Kementerian BUMN

Erick Thohir akan memangkasnya menjadi hanya tiga orang. Erick Thohirmengungkapkan bahwa ia dan kedua wakil menterinya telah bertemu dengan semua pejabat eselon I secara langsung dan menjelaskan mengenai restrukturisasi. MenurutErick Thohir, hal ini sesuai dengan arahan PresidenJokowiuntuk mempercepat gerakan demi membangun bangsa ini.

Maka dari itu, efisiensi birokrasi harus dilakukan. Menteri Badan Usaha Milik Negara ( BUMN)ErickThohirmengaku akan menghapus anak cucu perusahaanBUMN yang tak jelas pembentukannya. “Saya tidak akan stop mereka buat anak perusahaan, tapi kalau alasannya tak jelas harus saya stop,” ujar Erick.

Erick menambahkan, dirinya akan membuat aturan soal pembentukan anak usaha perusahaan BUMN. Dengan adanya aturan tersebut diharapkan para perusahaan plat merah tak asal dalam membentuk anak usahanya. “Karena itu, kita juga akan keluarkan Permen (peraturan menteri) yang tidak lain pembentukan anak perusahaan atau cucu cucu perusahaan harus ada alasannya,” kata mantan Ketua INASGOC itu. Mantan pemilik klub sepak bola Inter Milan tersebut berharap agar peraturan menteri itu bisa segera dikeluarkan.

Jika sudah keluar, dia akan langsung menyisir anak perusahaan BUMN yang tak jelas pembentukannya. “Saya tidak mau juga perusahaan perusahaan BUMN yang notabene masih sehat ke depannya justru tergerogoti oleh oknum. Saya tidak bicara direksi, tapi oknum yang sengaja menggerogoti dari perusahaan yang sehat sehat itu,” ucap dia.

Tags
Show More

Meita Estriani

Rahasia kehidupan adalah jatuh tujuh kali dan bangun delapan kali. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close